Minggu, 24 Maret 2013

TEMPE

TEMPE


Asal-usul

    

Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata "tempe", misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.

Tempe di Indonesia

Tempe goreng
Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.[11]
Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham, tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan berpenghasilan relatif rendah.
Namun, nama 'tempe' pernah digunakan di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa tengah, untuk mengacu pada sesuatu yang bermutu rendah. Istilah seperti 'mental tempe' atau 'kelas tempe' digunakan untuk merendahkan dengan arti bahwa hal yang dibicarakan bermutu rendah karena murah seperti tempe.Soekarno, Presiden Indonesia pertama, sering memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, "Jangan menjadi bangsa tempe." Baru pada pertengahan 1960-an pandangan mengenai tempe ini mulai berubah.
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia.[14] Plastik (polietilena) mulai menggantikan daun pisang untuk membungkus tempe, ragi berbasis tepung (diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti) mulai menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai menggantikan kedelai lokal. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta dan pada tahun 1983 telah beranggotakan lebih dari 28.000 produsen tempe dan tahu.
Standar teknis untuk tempe telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia dan yang berlaku sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe kedelai didefinisikan sebagai "produk yang diperoleh dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe".

Tempe di Luar Indonesia

Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.
Melalui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Sementara itu, tempe populer di Amerika Serikat setelah pertama kali dibuat di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe.[ Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983. Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.

Keripik tempe atau Kripik Tempe merupakan Makanan gurih dan renyah yang dibuat dari tempe tipis yang dicelupkan adonan tepung kemudian digoreng garing. Keripik tempe dikenal diberbagai daerah di indonesia seperti Keripik tempe bandung, kripik tempe malang dan Kripik tempe banyumas. Rasanya gurih dan renyah, cocok sekali buat cemilan bahkan lauk pauk. Apalagi kandungan protein yang ada pada kedelai sebagi bahan utama membuat kripik banyak mengandung protein sehingga keripik tempe  baik untuk dikonsumsi.
Kripik tempe sebagai oleh oleh biasa ditemukan di tempat tempat wisata sampai toko oleh oleh. Selain itu keripik tempe juga di jual di warung warung sampai pasar tradisional. Memang keripik tempe ini sangat merakyat dan disukai semua kalangan. Keripik tempe dapat bertahan cukup lama serta cara pembuatan keripik tempe juga relatif mudah. Sehingga Usaha keripik tempe ini pun berkembang dan menjadi lahan bisnis yang cukup menguntungkan. Kripik tempe banyak di produksi oleh industri rumahan.
Meskipun mudah dibuat, supaya hasil kripik tempe tetap gurih dan renyah, dalam pembuatannya perlu kebersihan dan ketelitian. Pemilihan bahan baku kripik tempe yang baik menjadi kunci sukses agar kualitas keripik bisa maksimal. Minyak untuk menggoreng haruslah minyak baru, sebaiknya tempe diiris ketika kita akan menggorengnya saja, karena jamur tempe dapat berkembang cepat jika dibiarkan lama yang mengakibatkan keripik tempe kurang gurih.
Kripik tempe renyah
 Untuk lebih jelasnya berikut resep cara membuat keripik tempe renyah.
Bahan Membuat Keripik Tempe
5 kg Tempe ( Iris tipis )
0,5  kg Tepung beras 
1 kg Minyak goreng / Minyak kelapa
1/2 sdm Ketumbar 
5 gram Kemiri
3 siung Bawang putih
Kapur sirih secukupnya
Santan secukupnya
Garam secukupnya
Cara membuat keripik tempe renyah
  • Gerus bumbu ketumbar, bawang putih dan kemiri sampai halus
  • Campurkan tepung beras dengan kapur sirih kedalam baskom kemudian tambahkan bumbu yang telah dihaluskan, aduk sampai rata tambahkan sedikit garam. 
  • Selanjutnya masukan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga tercipta adonan yang encer.
  • Celupkan tempe yang diiris tipis kedalam adonan. Kemudian goreng pada minyak panas sampai matang dan kering. Angkat dan tiriskan.
  • Biarkan dingin, Simpan keripik tempe dalam plastik atau toples kedap udara agar lebih tahan lama.
Tidak terlalu sulit bukan membuat keripik tempe ini, anda bisa mencobanya sendiri dirumah dan siapa tahu bisa menjadi peluang usaha anda.

KRIPIK TEMPE MALANG
PESAN ANTAR
HUB CALL/SMS 081 80 50 50 750
soeroto@gmail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar