Rabu, 27 Maret 2013

BANDUNG DULU DAN SEKARANG





BANDUNG DULU DAN SEKARANG


Teman saya, seorang pegawai kantoran di Surabaya, ketika kami sama-sama sebuah acara Dinas di Bandung, mengomel-ngomel melihat kemacetan parah setelah 20 menit lepas dari pintu tol Cimahi sampai di Jalan Terusan Pasteur. Ratusan kendaraan pada jam-jam  kantor  beradu cepat untuk keluar masuk kota Bandung. Jalan di depan mal BTC, waktu itu dari Jalan Terusan Pastur sampai Gedung Sate tempat kami berkunjung menempuh waktu lebih 1 jam.  Temen yang lain menimpali Ah payah, Pak, gak ada jalan pintas lain yang lebih cepat sampai kantor. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, namun tetap saja tidak ada perubahan yang berarti hingga kini. Teman saya terus saja mengomel, maklum perjalan an dari Bandara Sukarno Hatta ke Bandung menggunakan perjalanan darat pas diujung tol Cipularang Padalarang kendaraan troble kanpas kopling kebakar, alhamdullillah atas kebaikan mobil bak /pic up jasa marga diantar sampai di depan pintu Gedung Sate, pantas saja temen-temen pada stress.


gaya didepan rumah mode jl Setiabudi Bandung
Bandung sekarang makin semrawut saja, semrawut lalu lintasnya (banyak angkot yang ngetem seenaknya), ya semrawut pedagang kali limanya, ya semrawut papan reklamenya. Sudah semrawut, kumuh lagi. Beda jauh banget dengan Surabaya, meskipun kotanya panas tetapi lebih teratur.banyak penghijauan atau kalau boleh berlebihan sekarang mestinya Kota Surabaya yang harus disebut Kota Kembang bukan Kota Bandung sekarang.
Sebenarnya saya dulu lama tinggal di Bandung 3 tahun SMA tahun 1974 tamat dan kebetulan istri saya orang Bandung,  terus hampir tiap tahun lebih dari sekali ke Bandung dan 25 tahun  tinggal di Surabaya dan sekarang menetap di  Malang.
Tahun 1972-1974 kota Bandung hawanya sangat dingin yang kalau sekolah kalau gak pakai jaket ya keedinginan, kebetulan saya tinggal di Daerah Geger Kalong Girang ( tepatnya lokasi Darut Tauhidnya KH Abdullah Gymnastiar sekarang), untuk transportasi ke dari Ledeng (Jl Setyabudi - Stasiun Bandung) masih lancar cenderung sepi, ya saya masih menikmati dinginnya kota Bandung BENAR BENAR KOTA KEMBANG dan bandingkan dengan sekarang,  Bandung tak sedingin dan setertib dulu
Sepertinya kemacetan itu dimulai tahun akhir tahun 70 an awal 80an dengan pembangunan lingkar selatan betahun tahun tak kunjung selesai.
Kemacetan adalah salah satu masalah di kota Bandung dan  kemacetan  bukan pada hari-hari kerja, tetapi jug pada hari Sabtu dan Minggu ketika turis lokal dari Jakarta menghabiskan waktu liburnya ke Bandung untuk ber-wik-en, berpelesir, makan-makan dan belanja-belanja. Kalau sudah datang hari Sabtu, banyak warga kota seperti saya malas keluar rumah, sebab mau ke mana-mana macet.

Untunglah walaupun semrawut,  temen-temen masih terhibur dengan banyaknya industri kreatif, kotanya anak muda, busananya yang modis dan trendi, jajanan yang enak, dan tempat yang nyaman untuk belajar (kuliah), menjadi daya tarik orang luar datang ke Bandung berikut tempat tempat yang wajib untuk dikunjungi :









       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar